web analytics

Monthly Archives: April 2019

Persembahyangan Hari Suci Tilem Sasih Kedasa di Pura Agung Tirtha Bhuana Bekasi Tahun 2019

Bertempat di Pura Agung Tirtha Bhuana Bekasi tanggal 4 April 2019 berlangsung Persembahyangan bersama dalam rangka Yadnya Hari Suci agama Hindu yang tergolong Naimitika Yadya yaitu Tilem Sasih Kedasa.

Foto Umat Se-Dharma

Dipimpin Pinandita Mangku Urip dengan Master of Ceremony Pinandita Mangku Mardika Giri Persembahyangan dimulai pada pukul 19.30 Wib dan berakhir pada pukul 21.30 Wib. Hadir Para Manggala Banjar dan PHDI Kota Bekasi, Tokoh Masyarakat serta Umat Sedharma di kota dan kab. Bekasi. Dan yang bertugas menyiapkan sarana Upakara adalah Tempek Pondok Ungu Banjar Bekasi.

Acara persembahyangan kali ini di awali dengan nganteban banten
Upacara dan prayascita oleh Pinandita,  dengan diiringi Sekar Alit dan Sekar Madya yang relevan dengan Upacara Dewa Yadnya. Usai kegiatan tersebut dilanjutkan dengan Trisandya dan Panca Sembah. Selanjutnya Pemercikan tirtha dilakukan oleh Para Pinandita, dan bersamaan dengan itu disampaikan Dharma Wacana Oleh Bp. Ketut Ulianta.

Foto Umat Se-Dharma Yang Hadir

Adapun Dharma Wacana kali ini mengetengahkan tema : “PERSEMBAHYANGAN TILEM SEBAGAI UPAYA PENYUCIAN DIRI DAN MENGHINDARI PENGARUH AWIDYA” Dalam Dharma Wacananya petugas Dharma Wacana menyampaikan beberapa hal sebagai berikut :

Petugas Dharma Wacana

OM SWASTYASTU

OM AWIGNAM ASTU NAMO SIDHAM

OM SHIDIR ASTU TAT ASTU SWAHA

Para Pinandita, Manggala, tokoh dan Umat Se-Dharma yang berbahagia.

Pertama marilah kita senantiasa memanjatkan puja kehadapan Sang Hyang Widhi Wasa, karena atas Asung Kerta Waranugraha Nya kita diberikan kesempatan berkumpul melaksanakan swadharma sebagai umat Hindu di Pura Agung Tirtha Bhuana Bekasi dalam acara Persembahyangan Tilem Ke-Dasa pada malam hari ini.

Ida Hyang Widhi telah meringankan langkah kaki kita menyusuri jalan yang tidak sedikit halangannya hingga kita sampai di tempat yang suci ini. Pertanyaanya apakah yang sesungguhnya tujuan kita ini ?

Untuk itu dalam Darma Wacana Kali ini saya akan membahas tema Persembahyangan tilem sebagai upaya penyucian diri dan menghindari pengaruh Awidya.

Umat Sedharma yang berbahagia

Hari ini adalah hari suci umat Hindu yang dirayakan dengan beryadnya dilaksanakan pada waktu tertentu yatu Hari Suci Tilem. Tilem adalah Hari Suci yang jatuh pada waktu bulan mati (Kresna Paksa) sesungguhnya terkait erat dengan Hari Suci Purnama yaitu jatuh pada bulan penuh (Sukla Paksa).

Hari suci Purnama Tilem  ini mengajarkan kepada kita umat Hindu untuk menyadari adanya Rwa Bhineda atau dua sisi yang silih berganti hadir dalam kehidupan kita. Dalam kehidupan ini datang silih berganti antara Gelap dan terang, sedih dan bahagia, siang dan malam, baik dan buruk dan lainnya. Kita harus menyadari hal tersebut apapun keadaan kita hendaknya  kita terima dengan penuh berserah diri kepada Hyang Widhi. Ketika kita bersedih janganlah kita sedih berlebihan dan berkepanjangan dan sadari akan datang kegembiraan setelahnya demikian juga ketika kita bahagia janganlah terlalu bahagia kita harus ingat akan datang juga kesedihan demikian silih berganti dalam kehidupan kita. Malam ini kita datang untuk berserah diri menghadap Hyang Widhi.

Hari Tilem penuh dengan suasana gelap karena secara ilmu astronomi letak bulan berada diantara matahari dan bumi, kegelapan ini adalah perlambang (simbul) bahwa Alam Makro kosmos diliputi Kegelapan/Awidya  dan karena alam Mikrosmos juga memiliki unsur yang sama dengan makrokosmos maka juga mengalami hal yang sama yaitu diliputi Awidya/kegelapan termasuk jasmani dan rohani manusia itu sendiri.

Umat Hindu mengadakan Yadnya dan Persembahyangan sebagai upaya menghindari diri dari pengaruh Awidya/kegelapan tersebut. Awidya / kegelapan menyebabkan penderitaan.

Umat Se-Dharma yang berbahagia

Banyak sekali fakta dan Kenyataan yang terjadi sebagai contoh-contoh perilaku manusia sebagai pengaruh Awidya atau kegelapan tersebut. Perilaku manusia yang dipengaruhi Kegelapan akhir-akhir ini banyak kita saksikan terjadi di masyarakat secara fisik  maupun di mesos antara lain : Banyaknya orang yang dengan mudahnya membuat Berita Bohong atau Hoak. Ini adalah cerminan jiwa yang mementingkan diri sendiri atau kelompoknya dengan maksud agar dapat menikmati keuntungan dari perilakunya.

Perilaku itu sangat bertentangan dengan ajaran Anresangsia di dalam Hindu yang artinya Tidak mementingkan sendiri.

Akibat perilaku yang mementingkan diri sendiri menyebar Hoak akan menimbulkan penderitaan bagi dirinya  dan orang lain.

Contoh lainnya yaitu melakukan fitnah kepada individu atau kelompok, akan menyebabkan penderitaan kepada diri dan banyak orang, kekacauan akan terjadi akibat dari padanya. Melakukan Penganiayaan, meminum minuman keras, menghasut dan lainnya semua membawa penderitaan, itu semua adalah akibat dari adanya pengaruh Kegelapan/Awidya. Kurangnya pengetahuan, tuntunan moral dan pengetahuan agama yang sejati dan benar.

Umat Se-Dharma

Umat Hindu hendaknya berupaya untuk menghindari pengaruh Awidya tersebut, untuk itulah kita membutuhkan pencerahan sebagai pelita penerang kegelapan/Awidya.

Umat Se-Dharma yang berbahagia

Hindu mengenalkan Ajaran Catur Guru. Ada 4 sinangguh guru yaitu guru rupaka, guru pengajian, guru wisesa dan guru Swadyaya untuk memperoleh pencerahan dan menghindari Awidya. Guru yang berasal dari Bahasa sanskerta terdiri dari dua suku kata yaitu Gu (dark/gelap) dan Ru (light/terang atau cerah) jadi guru diartikan pencerah kegelapan.

Hari ini sejatinya adalah sebuah pembelajaran untuk mendapatkan pecerahan melalui guru Swadyaya, maha Guru yang telah mempersiapkan mekanisme didaktik dan metodiknya serta bahan ajarannya melalui Wahyu yang telah turunkan sebagai tuntunan bagi manusia dalam kitab suci Weda. Pemahaman Nilai-nilai ajaran dapat kita peroleh melalui Swadyaya (belajar sendiri/tuntunan guru)  baik pencerahan jasmani maupun rohani. Guru Swadyaya telah menurunkan Weda sebagai penuntun dan memberikan rambu-rambu dalam menjalankan kehidupan untuk mencapai kembali ke kebahagiaan sejati dan terbebas dari Awidya, tentunya melalui tahapan-tahapan sesuai mekanisme dan tuntunanNya.

Umat Hindu agar selalu ingat melakukan penyucian diri baik jasmani maupun rohani melaksanakan suci laksana dengan jalan senantiasa menghubungkan diri dengan Sang Maha Guru Pencipta Ida Sang Hyang Widhi Wasa melalui Karma Yoga, Bhakti Yoga, Jnana Yoga dan Raja Yoga. Dengan Penyatuan pelaksanaan catur Yoga ini kita dapat menyucikan Stula Sarira, Suksme Sarira dan Antakarana sarira.

Manifestasi Sang Hyang Widhi yang berfungsi sebagai pelebur segala kekotoran/mala sebagai akibat pengaruh Awidya pada Hari suci Tilem adalah Sang Hyang Surya. Umat Hindu pada hari ini hendaknya melakukan penyucian diri serta melakukan berbagai Yadnya agar diberikan jalan Menuju sorga Loka oleh Sang Hyang Yamadipati seperti yang disebutkan dalam lontar Purwa Gama. Sorga berasal dari kata Swarga yang terdiri dari suku kata Swar (Sinar) dan Ga (Pergi) jadi Swarga adalah pergi Menuju tempat yang bersinar cerah tanpa ada lagi kegelapan / Awidya. Artinya tidak lagi diliputi oleh kegelapan/Awidya tetap sudah tercerahkan dan mencapai kebahagiaan dan kesucian.

Manawadharmasastra V. 109) menyebutkan :

Adbhirgatrani Suddyhati Manah Satyena Suddhyati Widyatapobhyam Bhutatma Buddhir Janena Suddhyati.

Artinya : Tubuh dibersihkan dengan air, pikiran disucikan dengan kebenaran, jiwa disucikan dengan pengetahuan (pelajaran suci, tapa, brata, kebijaksanaan).

Demikian yang dapat disampaikan dalam Dharma Wacana Kali ini Semoga Bermanfaat bagi kita semua

Om Shanti Shanti Shanti Om

Demikianlah acara persembahyangan tilem kedasa di Pura Agung Thirta Bhuana Bekasi berakhir tepat pukul 21.30 yang diakhiri dengan Panganjali Parama Shanti bersama seluruh umat se-dharma semuanya.

Dharma Santhi Hari Raya Nyepi 1941 Saka Di adakan di Kota Bekasi Jawa Barat

Bertempat di Islamic Center Kota Bekasi diadakan Dharma Santhi Nyepi 1941 Saka Tgl 31 Maret 2019. Acara yang mengambil tema Dengan Dharma Santhi Nyepi Kita Rajut Kebersamaan, Kesejahteraan dan Suksesnya Pesta Demokrasi 2019, dimulai tepat pkl. 9.00 wib setelah sebelumnya dilakukan upacara ritual matur piuning yang dilaksanakan oleh para pinandita.

Foto Bersama Ketua PHDI Kab & Kota,
Pendharma Wacana

Acara formal berlangsung sekitar 3,5 jam dan berakhir pada pkl.12.30 wib. Acara kali ini dihadiri lebih kurang 750 orang peserta umat Hindu se bekasi dan para undangan, tokoh umat, tokoh masyarakat dan dari unsur FKUB (forum kerukunan umat beragama kota Bekasi). Hadir Wakil Walikota Bekasi Bpk. Tri Adhianto Tjahyono, Ketua FKUB Bpk. Abdul Manan, Ketua PHDI Kota Bpk. I Gst. Made Rudhita, Ketua PHDI Kab. Bekasi Bpk. Made Pande Cakra, Ketua Saba walaka PHDI Pusat Bpk. I Nengah Dana, Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Hindu Indonesia (ICHI) Bpk. Tri Handoko Seto, Ph.D dan tokoh lainnya. Acara diawali dengan menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, dilanjutkan dengan Doa, Pembacaan Sloka, Laporan Ketua Panitia, Tari Penyambutan, Sambutan Ketua PHDI Kota Bekasi, Sambutan Wakil Walikota Bekasi, Berbagai tari tarian Bali yang membuat suasana penuh dengan semangat dan kegembiraan. Dharma Wacana pada acara kali ini diisi oleh Ketua ICHI (Ikatan Cendekiawan Hindu Indonesia) Bpk. Tri Handoko Seto, Ph.D.

Pembaca Sloka

Dalam Dharma Wacana Ketua ICHI memaparkan kilas balik Runtuhnya Majapahit dan menyingkirnya para punggawa kerajaan sampai keujung Pulau Jawa dan akhirnya menyeberang sampai ke Bali dan akan kembali setelah 500 tahun seperti apa yang disabdakan ketika itu. Akhirnya tanda alam gunung meletus mentakdirkan generasi Hindu menyebar keseluruh nusantara untuk menjadi guru-guru spiritual agar nusantara kembali sejahtera setelah mengalami gonjang-ganjing ratusan tahun yang lalu. Beliau berharap kita jangan terjebak pada mistisisasi agama tetapi harus berada pada pengembangan spiritual agama agar tidak terulang kejadian ratusan tahun silam, dan mampu melaksanakan agama Hindu selurus-lurusnya sesuai ajaran Weda. Kebiasaan ritual kita sudah bagus tidak perlu dikurangi bahkan bisa ditambahkan yang lebih membumi. Pada akhir Dharma Wacananya beliau berpesan bahwa Konsep beragama itu haruslah fokus pada inti ajaran agama, tetapi tradisinya, budayanya bisa berubah-ubah sesuai dengan kebutuhan jamannya. Sehingga pengembangan umat hindu mampu berkontribusi bagi bangsa melalui Dharma
Agama dan Dharma Negara.

Sekehe Gong Banjar Bekasi

Ketua Panitia I Gde Darmayusa sekaligus ketua Banjar Bekasi dalam laporannya memaparkan berbagai rangkaian perayaan hari raya Nyepi Caka warsa 1941 ini telah diadakan antara lain : Bhakti Sosial, Melasti, Tawur Agung serta diakhiri dengan Dharma Santhi. Ucapan terima kasih kepada Pemda Bekasi yang telah mendukung acara ini serta ucapan terima kasih pula disampaikan kepada pihak Islamic center, FKUB, seluruh panitia dan umat sedharma.

Anak-anak pasraman juga dilibatkan dalam menyambut tamu undangan dan sekaligus melibatkan pemuda sebagai generasi muda penerus.

Foto Bersama Umat Hindu

Dalam sambutannya Wakil Walikota Bekasi Tri Adhianto Tjahyono. menyampaikan harapan untuk terus menjaga persatuan dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Ketua PHDI Kota Bekasi dalam sambutannya juga menghimbau seluruh umat untuk menjaga dan menghindari diri dari terpapar hoak dan termasuk tidak ikut – ikutan menyebarkan hoak. Beliau juga berharap agar memperoleh pemimpin yang mampu melindungi umat dalam pesta demokrasi 17 April 2019.

Acara Dharma Santhi tingkat kota Bekasi diakhir dengan acara ramah tamah dan foto bersama serta bersalam salaman.

Foto Bersama Umat Hindu
Foto Bersama Umat Hindu